Jumat, 12 Desember 2014

Jejak Ku di Gunung Marapi (GPS di Gunung Marapi)

Setiap detik kehidupan kita sangatlah berharga, setiap menitnya pasti selalu ada cerita yang akan menjadi pembelajaran untuk kita, dan ini sedikit cerita perjalananku di awal bulan desember 2014.
Ini catatan pendakianku (Yoosstefiana) bersama temen-temanku( Silvia, Ukhti, Wella, Hanny, Ina, Laila, Imi, Zaky, Rifky, Adit, Bambang, Jimmy, Randa, Trendy, Yendry,Kesmanto dan Bg Erwin)
Aku dan ke-17 temanku dari kampus Universitas negeri padang khususnya anak GPS (Geografi Pendidikan Sebelas) melakukan pendakian ke Gunung Marapi, Padang Panjang, Sumatera Barat. Pendakian ini mungkin bisa dibilang sedikit mendadak,karena bila di rencanakan takutnya terancam gagal. Sebenarnya untuk melakukan pendakian kali saya sedikit ragu-ragu, ini dikarenakan dua hari sebelum pendakian saya pergi trekking ke Nyarai Lubuk Aluang dengan 2 jam perjalanan dari tempat penitipan motor. Tidak bisa saya pungkiri, sepulang dari Nyarai kaki saya tengang, untuk berjalanpun susah,mungkin karena sudah lama tidak berjalan jauh, tetapi Alhamdulillah hanya tegang saja, tidak sakit seperti biasanya, karena saya dulu pernah retak tulang kaki, jadi untuk melakukan perjalanan jauh saya harus berpikir dua kali.
Pendakian kali ini sebenarnya saya tidak di ajak, tetapi sahabat saya Tiara Harisma yang di ajak untuk mendaki, mendengar ada kabar mendaki saya pun ngotot buat ikut, padahal kaki saya masih tengang sepulang dari Nyarai. Sempat ragu dengan kondisi kaki saya, tapi niat saya lebih besar dari keraguan saya,dan saya pun memutuskan untuk mendaki, karena saya berpikir akan sangat sulit mendapat kesempatan mendaki lagi kalau tidak sekarang, apa lagi mendaki kali ini bersama teman-teman seperjuangan di kuliah dan sekarang seperjuangan di pendakian.
Hari selasa sesudah magrib  saya dan ke-17 temanku berangkat dari padang, rombongan kamipun di bagi menjadi dua, ada yang menggunakan motor dan menggunakan kendaraan umum. Dan saya menggunakan kendaraan umum dengan ketiga teman saya yakni Silvia, Ukhti dan Zaky selebihnya menggunakan motor. Sesampainya di TOER (Pos 1) dan melapor untuk pendakian G.Marapi, kami pun menginap semalam disana dan besok paginya barulah mulai mendaki. Suasana malam itu bagi saya sangat menyenangkan semuanya terasa semakin dekat. Keesokan harinya, semua bangun untuk melakukan sholat subuh dengan air seadaanya,dan bersiap-siap berangkat pendakian, dari sinilah pendakian di mulai.

Gambar 1. Menuju pintu rimba (kanan:saya,kiri:kesmanto)
Sepanjang perjalanan dari titik  pos 1 menuju pintu rimba kami hanya disuguhkan dengan pemandangan ladang rakyat seperti cabe, kol, labu siam dan dibelakang kami ada Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek. Hanya dalam kurang lebih 1jam perjalanan sampai di pintu rimba, alhamdulillahnya di sana ada air dan WC. 


Gambar 2. Istirahat sejenak di Pintu Rimba
Setelah istirahat di pintu rimba, kamipun mulai lagi pendakian. Semakin Tinggi kaki ini mendaki semakin rendah suhu udara yang di rasakan dan alhamdulillahnya sepanjang perjalanan tadi tidak ada yang mengeluh sakit, jadi kami melanjutkan pendakian mencari sumber air untuk bisa istirahat dan makan. Tidak jauh dari pintu riba kami bertemu sungai dan istirahat di sana untuk makan.





Gambar 3. Istirahat dan Makan di Pinggir Sungai
Sesudah istirahat kamipun melanjutkan petualangan kami. Hari sudah beranjak siang kabut gunung mulai merambat naik, udara dingin kian mencengkram tulang dan diikuti rasa lelah karena dalam pendakian kami harus memanjat akar-akar pohon. Cuaca pun berubah dan kamipun di guyur hujan di tengah perjalanan yang membuat udara semakin dingin tepatnya di KM 4. Saya dan teman-teman saya pun berteduh sementara dengan terpal-terpal yang ada, yang paling saya ingat dan salutkan teman-teman laki-laki saya sangat cekatan sekali membuat tempat berteduh sementara dan hujan-hujanan. Sembari menunggu hujan berhenti,kami pun menghibur diri dengan bernyanyi-nyanyi, suasanapun semakin akrab terasa.sudah 2 jam hujan tak kunjung berhenti, kami pun nekat melanjutkan perjalanan menembus hujan, karena hari sudah mulai sore. Selang waktu 1 jam mendaki, alhamduulillah hujan berhenti. Aku lihat wajah teman-temanku masih bersemangat menuju puncak walaupun aku juga melihat muka leleh mereka apalagi yang laki-laki yaitu Yendry,Kes,Rifky,Adit,Bang Erwin dengan tas besar yang di bawanya berisi tenda dan peralatan lainnya yang pasti sangat berat.

Dengan semangat aku maju ke deretan depan, karana rasa hati ingin sampai duluan, tetapi bukan hanya saja yang semangat ada 3 teman saya juga ikut bersama saya di deretan depan yakni Randa, Wella dan Trendy, dan kami berempat tiba duluan di pintu angin dan istirahat menunggu temen-teman yang menyusul, dalam waktu menunggupun saya sempatkan berfoto. Karena pemandangan yang sangat bagus,dan melihat teman saya Randa memanjat pohon untuk melihat pendangan, saya pun ikut manjat pohon dan alhasil, Subhanallah pemandangannya sangat indah. Rasa yang luar bisa manjat pohon di ketinggian kurang lebih 2500 mdpl

Gambar 4. Manjat Pohon di ketinggian 2500mdpl
Dalam melakukan pendakian, banyak sekali hal-hal yang membuat tertawa, salah satunya ini, model cantik yang menghibur saya dan teman-teman di sela pendakian.
Di Pintu Angin kami istirahat  makan dan sholat ashar dan magrib, udara semakin dingin,di tambah kami harus mengambil wudhu untuk sholat, dan merasakan sensasi air sedingin batu es.




Gambar 6.Di Pintu Angin
Selesai sholat dan masak, kamipun melanjutkan perjalanan ke cadas tempat mendirikan tenda, hari sudah menunjukkan pukul 19.00, dengan penerangan yang ada kamipun mendaki lagi menuju cadas dan tepat jam 20.35 kami sampai di tepat camp, saya dan teman-teman perempuan lainnya istirahat menunggu yang yang laki-laki mendirikan tenda. Sangat letih rasanya dan lelah juga di tambah udara yang sangat dingin sampai jari-jari tanganpun terasa kaku.
Gambar 7. Perempuan tangguh mengusir lelah
Sesudah tenda di dirikan kamipun mulai berberes-beres di dalam tenda, dan bersiap-siap makan malam. Sesudah makan malampun semuanya masuk ketenda masing-masing untuk beristirahat karena besok mau melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi.
Matahari sudah muncul dan sayapun tidak bisa melihat sunrise dikarenakan semuanya sudah sangat keletihan dan tidak memungkinkan bangun subuh, jadi saya memutuskan untuk pergi duluan bersama Kesmanto ke puncak. Dalam pendakian ke puncak, saya di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa, yang membuat saya tidak berhenti-henti mengagung-agungkan kebesaran Allah.

Melanjutkan perjalan bersama kesmanto ke puncak, dan Alhamdulillah saya akhirnya sampai di puncak dengan sisa-sisa napas yang ada. Lega rasanya biasa sampai puncak merapi tapi masih ada perjalanan lagi menuju Puncak Merpati dan itu lumayan jauh. Dengan semangat yang besar saya mengumpulkan semangat yang besar dan al hasil saya dapat melihat kawah G. Marapi, Samudra di atas awan dan berdiri di atas puncak tertinggi di Merapi yakni Puncak Merpati.





Gambar 9. Foto bersama di Tugu Abel Tasman, Kawah Merapi, Samudra di atas awan, dan Puncak Merpati (Puncak tertinggi Marapi)
 
Sekian cerita pendakian saya bersama teman-teman saya, disana saya menemukan kebersamaan,perjuangan dan pengalaman yang sangat berharga bersama mereka, bersyukur pada Allah selama pendakian dan penurunan selalu dilindunginya dan disuguhkan keindahan buminya, terimakasih atas kebersamaannya, mengukir jejak di sana sangatlah menganggumkan, yang yang terakhir terimakasih untuk orangtuaku yang selalu mendukungku dan mengizinkan, yang paling penting terimakasih pada kakiku yang sudah kuat untuk berjalan, dan terakhir untuk sandalku, ini pendakianmu yang ke-7 kalinya, terimakasih sudah bertahan sampai saat ini, sudah menemani,dan sudah melindungi kaki ini sampai puncak tanpa ada luka sedikitpun. 

Gambar 10. Terimakasih Sandalku