Setiap detik kehidupan kita sangatlah berharga,
setiap menitnya pasti selalu ada cerita yang akan menjadi pembelajaran untuk
kita, dan ini sedikit cerita perjalananku di awal bulan desember 2014.
Ini catatan pendakianku (Yoosstefiana) bersama
temen-temanku( Silvia, Ukhti, Wella, Hanny, Ina, Laila, Imi, Zaky, Rifky, Adit,
Bambang, Jimmy, Randa, Trendy, Yendry,Kesmanto dan Bg Erwin)
Aku dan ke-17 temanku dari kampus Universitas
negeri padang khususnya anak GPS (Geografi Pendidikan Sebelas) melakukan
pendakian ke Gunung Marapi, Padang Panjang, Sumatera Barat. Pendakian ini
mungkin bisa dibilang sedikit mendadak,karena bila di rencanakan takutnya
terancam gagal. Sebenarnya untuk melakukan pendakian kali saya sedikit
ragu-ragu, ini dikarenakan dua hari sebelum pendakian saya pergi trekking ke
Nyarai Lubuk Aluang dengan 2 jam perjalanan dari tempat penitipan motor. Tidak
bisa saya pungkiri, sepulang dari Nyarai kaki saya tengang, untuk berjalanpun
susah,mungkin karena sudah lama tidak berjalan jauh, tetapi Alhamdulillah hanya
tegang saja, tidak sakit seperti biasanya, karena saya dulu pernah retak tulang
kaki, jadi untuk melakukan perjalanan jauh saya harus berpikir dua kali.
Pendakian kali ini sebenarnya saya tidak di
ajak, tetapi sahabat saya Tiara Harisma yang di ajak untuk mendaki, mendengar
ada kabar mendaki saya pun ngotot buat ikut, padahal kaki saya masih tengang
sepulang dari Nyarai. Sempat ragu dengan kondisi kaki saya, tapi niat saya
lebih besar dari keraguan saya,dan saya pun memutuskan untuk mendaki, karena
saya berpikir akan sangat sulit mendapat kesempatan mendaki lagi kalau tidak
sekarang, apa lagi mendaki kali ini bersama teman-teman seperjuangan di kuliah
dan sekarang seperjuangan di pendakian.
Hari selasa sesudah magrib saya dan ke-17 temanku berangkat dari padang,
rombongan kamipun di bagi menjadi dua, ada yang menggunakan motor dan
menggunakan kendaraan umum. Dan saya menggunakan kendaraan umum dengan ketiga
teman saya yakni Silvia, Ukhti dan Zaky selebihnya menggunakan motor. Sesampainya
di TOER (Pos 1) dan melapor untuk pendakian G.Marapi, kami pun menginap semalam
disana dan besok paginya barulah mulai mendaki. Suasana malam itu bagi saya
sangat menyenangkan semuanya terasa semakin dekat. Keesokan harinya, semua
bangun untuk melakukan sholat subuh dengan air seadaanya,dan bersiap-siap
berangkat pendakian, dari sinilah pendakian di mulai.

Gambar 1. Menuju pintu rimba
(kanan:saya,kiri:kesmanto)
Sepanjang perjalanan dari titik pos 1 menuju pintu rimba kami hanya
disuguhkan dengan pemandangan ladang rakyat seperti cabe, kol, labu siam dan
dibelakang kami ada Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek. Hanya dalam kurang
lebih 1jam perjalanan sampai di pintu rimba, alhamdulillahnya di sana ada air
dan WC.
Gambar 2. Istirahat sejenak di Pintu Rimba
Setelah istirahat di pintu rimba, kamipun mulai
lagi pendakian. Semakin Tinggi kaki ini mendaki semakin rendah suhu udara yang
di rasakan dan alhamdulillahnya sepanjang perjalanan tadi tidak ada yang
mengeluh sakit, jadi kami melanjutkan pendakian mencari sumber air untuk bisa
istirahat dan makan. Tidak jauh dari pintu riba kami bertemu sungai dan
istirahat di sana untuk makan.
Gambar 3. Istirahat dan Makan di Pinggir Sungai
Sesudah istirahat kamipun melanjutkan
petualangan kami. Hari sudah beranjak siang kabut gunung mulai merambat naik,
udara dingin kian mencengkram tulang dan diikuti rasa lelah karena dalam
pendakian kami harus memanjat akar-akar pohon. Cuaca pun berubah dan kamipun di
guyur hujan di tengah perjalanan yang membuat udara semakin dingin tepatnya di
KM 4. Saya dan teman-teman saya pun berteduh sementara dengan terpal-terpal
yang ada, yang paling saya ingat dan salutkan teman-teman laki-laki saya sangat
cekatan sekali membuat tempat berteduh sementara dan hujan-hujanan. Sembari
menunggu hujan berhenti,kami pun menghibur diri dengan bernyanyi-nyanyi,
suasanapun semakin akrab terasa.sudah 2 jam hujan tak kunjung berhenti, kami
pun nekat melanjutkan perjalanan menembus hujan, karena hari sudah mulai sore.
Selang waktu 1 jam mendaki, alhamduulillah hujan berhenti. Aku lihat wajah
teman-temanku masih bersemangat menuju puncak walaupun aku juga melihat muka
leleh mereka apalagi yang laki-laki yaitu Yendry,Kes,Rifky,Adit,Bang Erwin
dengan tas besar yang di bawanya berisi tenda dan peralatan lainnya yang pasti
sangat berat.
Dengan semangat aku maju ke deretan depan, karana rasa hati ingin sampai duluan, tetapi bukan hanya saja yang semangat ada 3 teman saya juga ikut bersama saya di deretan depan yakni Randa, Wella dan Trendy, dan kami berempat tiba duluan di pintu angin dan istirahat menunggu temen-teman yang menyusul, dalam waktu menunggupun saya sempatkan berfoto. Karena pemandangan yang sangat bagus,dan melihat teman saya Randa memanjat pohon untuk melihat pendangan, saya pun ikut manjat pohon dan alhasil, Subhanallah pemandangannya sangat indah. Rasa yang luar bisa manjat pohon di ketinggian kurang lebih 2500 mdpl
Gambar 4. Manjat Pohon di ketinggian 2500mdpl
Dalam
melakukan pendakian, banyak sekali hal-hal yang membuat tertawa, salah satunya
ini, model cantik yang menghibur saya dan teman-teman di sela pendakian.Di Pintu Angin kami istirahat makan dan sholat ashar dan magrib, udara semakin dingin,di tambah kami harus mengambil wudhu untuk sholat, dan merasakan sensasi air sedingin batu es.
Gambar 6.Di Pintu Angin
Selesai
sholat dan masak, kamipun melanjutkan perjalanan ke cadas tempat mendirikan
tenda, hari sudah menunjukkan pukul 19.00, dengan penerangan yang ada kamipun
mendaki lagi menuju cadas dan tepat jam 20.35 kami sampai di tepat camp, saya
dan teman-teman perempuan lainnya istirahat menunggu yang yang laki-laki
mendirikan tenda. Sangat letih rasanya dan lelah juga di tambah udara yang
sangat dingin sampai jari-jari tanganpun terasa kaku.
Gambar 7. Perempuan tangguh mengusir lelah
Sesudah tenda di dirikan kamipun mulai
berberes-beres di dalam tenda, dan bersiap-siap makan malam. Sesudah makan
malampun semuanya masuk ketenda masing-masing untuk beristirahat karena besok
mau melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi.
Matahari
sudah muncul dan sayapun tidak bisa melihat sunrise dikarenakan semuanya sudah
sangat keletihan dan tidak memungkinkan bangun subuh, jadi saya memutuskan
untuk pergi duluan bersama Kesmanto ke puncak. Dalam pendakian ke puncak, saya
di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa, yang membuat saya tidak
berhenti-henti mengagung-agungkan kebesaran Allah.
Melanjutkan perjalan bersama kesmanto ke
puncak, dan Alhamdulillah saya akhirnya sampai di puncak dengan sisa-sisa napas
yang ada. Lega rasanya biasa sampai puncak merapi tapi masih ada perjalanan
lagi menuju Puncak Merpati dan itu lumayan jauh. Dengan semangat yang besar
saya mengumpulkan semangat yang besar dan al hasil saya dapat melihat kawah G.
Marapi, Samudra di atas awan dan berdiri di atas puncak tertinggi di Merapi
yakni Puncak Merpati.
Gambar 9. Foto bersama
di Tugu Abel Tasman, Kawah Merapi, Samudra di atas awan, dan Puncak Merpati
(Puncak tertinggi Marapi)
Gambar 10. Terimakasih
Sandalku



